Selasa, 08 Maret 2016

Ilusi Ke-keren-an Dalam Organisasi Mahasiswa

Di dunia ini.. suka nggak suka, mau nggak mau, kita akan selalu dibandingkan dengan orang lain.

Bebrapa contoh pembicaraan sehari-hari yaitu:
  1. "Lihat tuh si A, sudah sarjana dan sekarang kerjanya di perusahaan ternama! Kamu kapan lulus?"
  2. "Kamu tuh ya kok nggak pernah dapet ranking di kelas? Lihat teman kamu si B selalu masuk 10 besar!"
  3. "Wah, si C keren yah sekarang, sudah menikah dan memulai rumah tangga. Nggak tanggung-tanggung, langsung menikahi 3 wanita secara bersamaan. Kamu kapan?"
(cukup jelas bahwa contoh ketiga merupakan karya fiksi ilmiah. Apabila ada kesamaan dalam kehidupan sehari-hari, hal itu hanya kebetulan semata. Tapi kalo beneran ada, Subhanallah.)

Intinya, orang lain terlihat lebih keren dan sukses dari kita. Itulah (mungkin) kenapa akhirnya muncul sebuah pepatah "rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri". Kita sering kagum akan apa yang orang lain bisa capai dalam kehidupannya. Padahal tanpa sadar, diam-diam orang lain juga kagum terhadap kita. Karena kita mungkin saja memiliki apa yang tidak dimilikinya.

Sebenarnya, apa sih yang membuat orang membandingkan sesuatu? Menurut saya, sederhana.

Individu. Ingin. Memahami.

Pemahaman akan sesuatu akan lebih mudah bila melakukan analisis melalui perbandingan. Di situ, bisa terlihat jelas sifat-sifat yang membedakan antara yang sukses dan yang tidak. Dari sana, kita bisa mengambil (atau diberitahukan) sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana seseorang bisa menjadi sukses.

Dalam konteks pribadi (pengembangan diri), hal itu baik. Kita bisa memahami bagaimana cara orang lain meraih kesuksesannya.
Gambar 1. Apple to apple, a fair and objective comparison. Taken from Beforeitsnews.

Namun dalam konteks organisasi (apalagi organisasi mahasiswa), perbandingan antara kepengurusan yang dulu dengan kepengurusan yang sekarang seringkali membuat sebuah kesenjangan dalam "memaknai" kontribusi kita terhadap kesuksesan organisasi. Kesenjangan ini membuat persepsi bahwa "kita harus lebih baik daripada kepengurusan yang kemarin. Bila tidak, kita jauh lebih jelek daripada yang sebelumnya".

Berdasarkan pengamatan saya, hal ini dapat menimbulkan anti pati terhadap pelaku organisasinya, dan tidak jarang memunculkan perlakuan/penghakiman tidak adil terhadap pengurus organisasi yang dianggap keberhasilannya berkurang dibandingkan pengurus sebelumnya (ataupun sebaliknya). Dalam konteks yang lebih ekstrim, mereka yang merasa kurang diapresiasi memunculkan stigma-stigma negatif terhadap mereka yang dianggap lebih sukses. Bahasa sederhananya: gara-gara lo, gue nggak keren. Lo "mamam" nih pembalasan gue.

Jadi, mengapa bisa terjadi seperti itu? Kenapa jadi ada yang dianggap nggak keren?


Sebelum melihat bagaimana ilusi ke-keren-an dalam kepengurusan di organisasi, mari kita lihat nature dari pelaku organisasi itu. Mahasiswa.

Saya teringat saat melalui masa orientasi mahasiswa, mahasiswa senior yang berbicara di depan podium mengatakan bahwa mahasiswa adalah "maha" nya siswa. Sebuah strata tertinggi dalam konteks ke-siswa-an. Agent of change. Suara dari rakyat. Dan lain sebagainya. Menurut saya, cekokan dogma seperti ini membuat mahasiswa menjadi mahluk dengan Ego yang tinggi. Toh mahasiswa atau bukan, kita hanyalah seorang yang sedang dalam proses belajar? Seseorang yang belajar menggunakan ilmunya, menjadi bermanfaat untuk masyarakat? Bukankah setiap orang, baik mahasiswa atau bukan, harus bertanggung jawab atas dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya?

Sejak pemahaman ini saya dapatkan, saya lebih suka dipanggil pelajar daripada mahasiswa.

Nah, tingginya Ego mahasiswa membuat organisasi mahasiswa membutuhkan sebuah pembuktian yang nyata dan terukur apakah dia berhasil atau tidak dalam kepengurusannya. Hal inilah yang mendorong perlunya sebuah nilai atau skor dalam menentukan kualitas sebuah kepengurusan. Sehingga, kepengurusan bisa dinilai secara obyektif dan adil.

Di sisi lain, nilai dan skor membuat sebuah ilusi seakan-akan skor yang bagus adalah kepengurusan yang bagus. Pemenuhan program kerja menjadi sekedar pengguguran tanggung jawab agar mendapatkan nilai bagus. Pengembangan dan kreativitas organisasi dalam mencapai visinya menjadi terkunci gara-gara kreativitas tersebut "tidak bisa di nilai." Penilaian berubah fungsi dari 'pengukuran keberhasilan akan visi organisasi' menjadi 'sebuah nilai untuk melakukan pembenaran bahwa kami keren.'

Yaa.... Nggak bisa disalahkan juga sih bila kita ingin dianggap keren. Siapa sih yang nggak mau dianggap keren?

Namun, jangan salah.. Keren hanyalah sebuah ilusi, dan hampir setiap orang bisa tertipu dengan ilusi ini.

Berikut ini, saya mengajukan sebuah hipotesis untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan "Ilusi ke-keren-an" dalam kaitannya dengan kepengurusan organisasi
Ilusi kekerenan dalam kaitannya dengan kepengurusan organisasi adalah sebuah keyakinan di mana suatu kepengurusan merasa lebih keren dari kepengurusan sebelumnya karena kepengurusan itu bisa mencapai hal-hal yang tidak bisa dicapai oleh kepengurusan sebelumnya. Padahal, akibat dari ilusi kekurangkerenan kepengurusan sebelumnya lah kepengurusan saat ini bisa mencapai hal-hal yang dianggap lebih keren.
Bingung? Bagus. Saya juga.

Gini lah, saya coba jelaskan dengan kuis saja, yah.

Pertanyaan
Anggaplah saya lagi mengurus sebuah organisasi bernama X. Saya seorang ketua pengurus saat ini. Dari kepengurusan sebelumnya, saya menyadari ada banyak hal yang belum diselesaikan dan berpotensi menghambat kelancaran organisasi. Hambatan dari pengurus sebelumnya adalah: belum adanya sebuah sistem untuk mengkader dan mengevaluasi kaderisasi mahasiswa baru, sehingga sumber daya untuk regenrasi organisasi jadi sulit untuk ditemukan. Di tahun kepengurusan saya, sistem kaderisasi dan evaluasi kader mahasiswa baru itu rampung. Sehingga, kepengurusan kedepannya terlihat hasilnya: banyak kader-kader mahasiswa yang bersedia untuk mengurus organisasi X.

Pertanyaan: Siapa yang keren?

a) saya yang menjabat saat ini? atau,
b) mereka yang menjabat di periode sebelumnya?
c) dua-duanya keren!
Oke, apa jawabanmu? Mungkin mayoritas akan menjawab A, karena ketua saat ini berhasil merampungkan permasalahan pengurus sebelumnya, yaitu sistem kaderisasi mahasiswa baru.

Tapi, saya nggak setuju dengan jawaban kamu. Bisakah kamu jelaskan bagaimana A bisa membuat sistem kaderisasi, tanpa ada permasalahan tersebut di kepengurusan sebelumnya? Bukankah itu berarti pengurus sebelumnya lebih keren, karena telah memberikan bahan kinerja untuk kepengurusan sekarang sehingga organisasinya bisa maju lagi di periode selanjutnya? Hayo!

...

(kemudian kamu hening, mencoba berpikir dan menganalisa, sepertinya ada benarnya juga)

"Ah, kalo gitu jawabannya B dong, kak! Pengurus sebelumnya keren karena memberikan bekal kepada pengurus selanjutnya!"

Maaf, tapi balik lagi, saya nggak setuju dengan kamu. Bagaimana bisa sebuah pengurus dikatakan keren, ketika mereka menyisakan permasalahan pasca kepengurusannya? Itu mah bukan keren, tapi menyusahkan! Hayo!

...

...

(diam tanpa kata, mungkin saat ini kamu kesal sama saya)

"Loh, jawaban A bukan? jawaban B juga bukan? Jadi jawabannya apa dong, kak!?"

Tenang, tenang! Jangan marah dulu, saya akan beritahu jawabannya.

Ya sudah jelas, jawabannya adalah C! Dua-duanya sama-sama keren. Di satu sisi, kepengurusan yang sekarang di inspirasi oleh kepengurusan sebelumnya. Sebaliknya, tidak ada kepengurusan yang sempurna, pasti selalu menyisakan Pekerjaan Rumah (PR) untuk kepengurusan selanjutnya. Bila pekerjaannya sempurna, buat apa lagi ada organisasi itu, bukan?

...

...

...

(diam tanpa kata, kamu makin kesal karena tidak melihat tersedianya jawaban C)

"LOH KAK KAN GA ADA JAWABAN C, CUMAN JAWABAN A DAN B DOANK KA!"

Tenang! Tenang! Kamu adalah mahluk intelektual dan bermoral. Jangan marah-marah dulu, donk!

Ahem. *membersihkan dahak*

Bila kamu tidak dapat menemukan jawaban C... Gampang.

Apabila kamu menggunakan komputer, kembalilah ke soal di atas, dan pencet "Ctrl + A" untuk pengguna Windows, atau "Command+A" bila menggunakan Mac.

Bila menggunakan handphone, tahan jarimu di salah satu kata di dalam pilihan tersebut (bisa pilihan A atau B). Tahan sampai muncul sebuah pilihan. Bila sudah muncul pilihan, pilihlah "Select All"

...

(mungkin saat ini kamu akan berkata di dalam hati, "bangsat lo Syir")

Sudah faham? Keren itu ilusi. Bila kita sebagai pengurus organisasi yang dipercaya oleh orang-orang yang berekspektasi kepada kita, tetapi kita malah memilih untuk mengejar kekerenan semata, di mana tanggung jawab kita?

Kadang kita lupa, kita malah fokus untuk menjadi keren. Padahal sebenarnya kita hanyalah pelayan untuk idealisme organisasi yang ingin kita capai bersama-sama. Kita juga lupa bahwa kesuksesan saat ini tidak luput dari campur tangan kesuksesan pendahulu kita, sebagaimana kesuksesan pendahulu kita merupakan hasil dari campur tangan oleh orang-orang yang lebih dulu lagi. Semuanya bersambung dan memiliki tujuan yang sama, walaupun dengan cara yang tiap kepengurusannya agak berbeda.

Hal ini menjadi sebuah kontemplasi bagi saya sendiri. Pantaskah kita dianggap keren ketika mencapai sebuah target dalam organisasi? Saya rasa tidak. Karena, tujuan itu tidak serta merta merupakan usaha dari kepengurusan semata, tapi ada juga akibat dari perjuangan orang-orang sebelum kita.

Kesimpulannya, kita nggak keren karena ada kepengurusan sebelumnya yang menginspirasi kita. Kepengurusan sebelumnya pun juga nggak keren, karena bila ditarik terus sampai kepengurusan pertama pun, yang acapkali disebut sebagai founding father-nya sebuah organisasi, itu pun nggak keren. Kenapa? Toh semuanya saling di inspirasi oleh orang lain. Yang mana orang lain pun terinspirasi dari yang lain juga. Dan akhirnya seterusnya seperti itu sampai manusia pertama.

Jadi, yang keren siapa, dong?

Ya Allah semata! Nggak ada lagi yang lebih keren selain Dia.

Supaya paham kenapa Dia itu kekerenannya absolut, sering-sering lah baca kitab tebal itu yang sudah lama tidak kamu buka. ;-)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar